Pandemi Melambungkan Nama Move On

0
60

SHIMANEWS.id, Jepara – Dampak pandemi covid-19 juga dirasakan pelaku usaha rumahan. Seperti pembuat telur asin di Desa Gerdu Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Penjualan telur asin ke pasar-pasar tradisional menurun.

Salah satu warga yang menekuni usaha pembuat telur asin adalah Syir’ah. Sejak tahun 1995, ibu satu anak itu memulai usaha pembuatan telur asin. Bila sebelum ada pandemi sehari mampu menjual 1.500 hingga 2.000 butir telur asin, kini permintaan telur asin tak datang tiap hari.

“Sekarang yang jadi andalan (penjualan) tinggal katering dan orang punya hajat. Tapi sekarang ini kan orang hajatan juga dibatasi, jadi ya (penjualan) tidak tentu,” ujar Syir’ah.

Bulan Besar (penanggalan bulan Jawa) mestinya jadi bulan berkah tersendiri bagi pembuat telur asin. Sebab, di bulan tersebut banyak orang Jawa yang melaksanakan hajatan. Namun, lantaran Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, jumlah orang menggelar hajatan berkurang.

“Bulan-bulan ini biasanya banyak pesanan. Karena untuk selamatan orang berangkat haji, selamatan hajatan. Tapi sekarang ini kan orang haji tidak ada, selamatan juga sedikit,” kata Syir’ah sembari mencuci telur bebek untuk dibuat telur asin.

Di balik penurunan penjualan ke pasar-pasar dan pesanan dari orang punya hajatan, pandemi covid-19 telah memperluas jaringan penjualan telur asin. Dibantu anak semata wayangnya, Nur Hayatun, kini Syir’ah juga menjual telur asin buatannya secara dalam jaringan (daring).

“Karena pandemi ini terus jualan juga di internet. Malah ketemu pembeli-pembeli dari luar daerah. Untungnya di situ,” ujar Nur sembari membantu orangtuanya mencuci telur.

Agar telur asin buatan orangtuanya juga bisa diterima kaum milenial, Nur pun mengubah nama usaha orangtuanya. Dari telur asin Cahaya, kini diganti telur asin Move On.   

“Di sini biasanya (nama usaha telur asin) menggunakan nama anaknya, terus saya ganti Move On. Biar beda dengan yang lain kekinian. Jadi pernah lihat postingan orang pas lagi makan di nasi kucing (angkringan), pegang telur asin dikasih caption telur asin saja move on, masa kamu tidak,” beber Nur mengapa mengubah nama telur asin buatan orangtuanya.

Kini telur asin buatan Syir’ah tak hanya dinikmati warga Bumi Kartini. Meski penjualan daring tak sebanyak pesanan sebelum pandemi, hasilnya mampu membuat usaha rumahan itu bertahan. Selain itu, telur asin buatan Syir’ah kian dikenal masyarakat dengan nama barunya, Move On.

“Ini biasanya ada yang mencuci telur sendiri, kebetulan orangnya izin jadi saya bantu ibu sambil berjemur,” kata Nur. (Rhs/SN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here