Dampak Banjir dan Kekeringan bagi Petani Telah Diantisipasi Kementan

0
108

SHIMANEWS.id, Jepara – Ditjen Sarana dan Prasarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) telah siap mengantisipasi terjadinya anomali cuaca pada bulan ini. Itu sebabnya para petani diharapkan tidak perlu terlalu mencemaskan adanya banjir dan kekeringan yang terjadi secara bersamaan di wilayah Nusantara. Hal tersebut disampaikan Assosiate Researcher dari Research Center Media Goup (RCMG) Irwansyah.

‘’Berdasarkan penjelasan dari LAPAN-BRIN, wilayah Indonesia bagian utara (sekitar wilayah ekuator ke utara) kemungkinan besar sudah memasuki musim hujan lebat  pada September ini. Bahkan, pada Agustus lalu BNPB mencatat telah terjadi 61 kali bencana banjir. Sedangkan Jawa dan Nusa Tenggara masih mengalami musim kemarau,’’ ujar Irwansyah dalam keterangan tertulis yang diterima Shimanews.id, Senin, 13 September 2021.

Mencermati kondisi tersebut, Irwansyah mengharapkan kepada para petani untuk menepis kekhawatiran. Sebab pihak Kementerian Pertanian sejak dini telah melakukan sejumah langkah antisipasi.

‘’Dari riset RCMG atas kebijakan Kementan, setidaknya ditemukan lima langkah strategis dan teknis agar para petani tidak mengalami kerugian akibat perubahan cuaca,’’ kata Irwansyah.

Langkah pertama, lanjut Irwansyah, Kementan melakukan maping terhadap wilayah yang diperkirakan akan rawan kekeringan maupun banjir serta melakukan pengawalan dan monitoring pertanaman pada daerah-daerah tersebut.

‘’Kedua, Pak Menteri Syahrul Yasin Limpo telah mengintruksikan kepada seluruh jajajaran untuk saling meningkatkan koordinasi antar-instansi baik pusat maupun daerah terkait dengan upaya mitigasi dampak risiko dari bencana banjir maupun kekeringan,’’ ujar Irwansyah.

Sementara itu langkah ketiga terkait dengan kekeringan, kata Irwansyah, melakukan optimalisasi pemanfaatan sumber air seperti embung, bendungan, waduk, penggunaan pompa dan alat mesin pertanian (alsintan) untuk memitigasi kekeringan. Sedangkan langkah mengatasi banjir dengan kegiatan normalisasi saluran penampungan air termasuk perbaikan embung, optimalisasi bantuan pompa sumur suntik serta kegiatan setara lainnya.

Keempat, kata Irwansyah, Kementan mendorong para petani untuk memanfaatkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) atau asuransi pertanian, bantuan saprodi dan pemanfaatan lahan kering dan rawa.

‘’Sedangkan langkah terakhir, Kementerian Pertanian mengambil langkah penanganan dampak perubahan iklim seperti  informasi perkiraan musim, optimalisasi kegiatan penerapan penanganan dampak perubahan iklim, monitoring dan evaluasi perkembangan banjir serta  kekeringan,’’ ungkap Irwansyah.

Assosiate Researcher dari Research Center Media Goup (RCMG) Irwansyah.

Menurut Irwansyah, apapun kondisi yang akan dihadapi baik kekeringan maupun kebanjiran, pada intinya senjata pamungkas yang telah dirancang oleh Kementan itu adalah pemanfaatan embung, irigasi pemompaan, penggunaan alsintan dan AUTP atau asuransi pertanian.

Dalam pandangannya, asuransi pertanian atau AUTP adalah upaya perlindungan yang diberikan pemerintah kepada para petani jika mereka mengalami risiko gagal panen baik diakibatkan banjir maupun kekeringan.

‘’Sejauh saya ketahui, dengan AUTP  atau asuransi pertanian itu maka petani akan mendapat pertanggungan Rp6 juta per hektare di setiap musim. Kebijakan ini tujuannya hanya satu yaitu menghindarkan petani dari resiko kerugian,’’ beber Irwansyah. (Rhs/SN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here